Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Inilah rekonstruksi kehidupan manusia menuju manusia modern hakiki: sebuah perjalanan panjang yang menanti kita semua untuk diperebutkan bukan dengan senjata, melainkan dengan akhlak yang menjadi icon utama. Di era yang dijanjikan sebagai kemodernan sejati, kita tidak lagi mengukur kemapanan manusia lewat kekayaan materi semata atau kekuasaan jabatan, melainkan lewat kemampuan kita berkolaborasi, saling memahami, dan saling menolong. Kisah ini bukan sekadar impian, melainkan sebuah peta nyata untuk hidup bersama yang lebih manusiawi, lebih tenang, dan lebih bermakna.
Hampir semua orang sepakat bahwa kemakmuran masa depan bukanlah tentang produksi senjata atau persaingan yang tiada henti. Kita perlu menata ulang hidup secara prioritas: akhlak utama menjadi ikon, bukan kekuasaan atau kekayaan semata. Bayangkan sebuah komunitas di mana setiap orang menghormati hak dan martabat sesama, di mana kekuatan ekonomi tidak lagi dipakai untuk menindas, melainkan untuk memperkuat kesejahteraan bersama. Di sana, perkelahian—baik fisik maupun verbal—hilang secara bertahap, karena empati duluan menguasai tindakan.
Konsep hidup pola baru—yang menekankan keseimbangan antara kebutuhan hidup dan cara memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara yang adil—mengganti pola lama yang cenderung eksploitatif. Pola baru menuntun kita pada gaya hidup yang lebih berkelanjutan: konsumsi yang bijak, produksi yang bertanggung jawab, dan konsumsi yang tidak merusak lingkungan maupun hubungan antar manusia. Dalam langkah ini, kita tidak lagi menimbun kekayaan di atas penderitaan orang lain. Sebaliknya, kita melihat kekayaan sebagai kemampuan berbagi, sebagai jembatan untuk meningkatkan kualitas hidup semua orang, dari kota besar hingga desa terpencil.
Kita juga mengubah cara kita bersosial. Masyarakat yang ideal tidak lagi terpecah oleh kelas, jabatan, atau status. Yang kaya menghargai yang miskin, teman dekat yang miskin pun mendapatkan dukungan nyata dari komunitas. Yang miskin memberi dukungan moral dan solidaritas kepada yang kaya melalui kolaborasi yang sejati: bantuan tidak datang sebagai belas kasihan semata, melainkan sebagai bagian dari ekosistem saling mendukung. Di tempat kerja, pejabat menghormati bawahan dan bawahan menghormati pejabat—bukan karena kedudukan semata, melainkan karena sifat saling percaya yang tumbuh dari layanan publik yang tulus. Harmoni ini adalah cermin dari sebuah negara yang matang batinnya, sebuah masyarakat yang menilai kemanusiaan lebih dari jumlah akun bank atau kilau jabatan.
Kehidupan modern hakiki menuntut kita untuk berkolaborasi lebih banyak. Ketimbang berkompetisi, kita berlatih sinergi: proyek-proyek lintas sektor diselenggarakan untuk kepentingan publik, riset bersama mengalirkan inovasi ke semua lapisan masyarakat, dan inisiatif komunitas tumbuh dari kebutuhan nyata warga. Kolaborasi menjadi bahasa sehari-hari: warga bersama, organisasi non-pemerintah, perusahaan, serta pemerintah bekerja tanpa ego kepentingan. Dalam kerangka ini, kita menyaksikan dampak positif yang luas—tepatnya sebuah pola kerja yang mengangkat kualitas hidup secara merata, mengurangi jurang antara kaya dan miskin, serta memperkokoh jaring pengaman sosial.
Tugas kita bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan hidup dengan makna. Akhlak sebagai ikon menuntun kita pada pola perilaku yang konsisten: kejujuran menjadi dasar berinteraksi, keadilan menjadi standar dalam setiap keputusan, dan kasih sayang menjadi bahan bakar setiap tindakan kecil yang berdampak besar bagi orang lain. Ketika kita menegaskan akhlak sebagai kompas moral, kita tidak lagi mengukur nilai manusia dari seberapa banyak materi yang dimiliki, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang bisa ditularkan kepada sesama. Dalam kerangka ini, kebejatan moral—yang merusak kepercayaan publik dan merusak tatanan sosial—dipisahkan dari kehidupan warga, dan perlahan lenyap.
Hidup pola baru juga berarti kita beralih dari konsumsi yang serba cepat menuju gaya hidup yang lebih sadar. Kita menimbang dampak tiap pilihan kita: bagaimana produk yang kita beli diproduksi, bagaimana dampaknya terhadap pekerja, lingkungan, dan komunitas sekitar. Keberanian untuk mengubah pola konsumsi menjadi pilihan sehat bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk generasi yang akan datang. Dalam masyarakat seperti ini, alam menjadi mitra, bukan musuh. Energi bersih, transportasi berkelanjutan, dan desain kota yang memprioritaskan manusia membuat setiap langkah kita terasa ringan, menyejukkan, dan penuh harapan.
Pelan namun pasti, kita menyaksikan perubahan dalam tata kelola publik. Pemerintah tidak lagi menjadi satu-satunya penentu arah, melainkan fasilitator bagi partisipasi warga. Birokrasi diurutkan ulang: prosedur yang berbelit-belit dipangkas, transparansi ditingkatkan, dan akuntabilitas menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kerja. Ketika publik melihat bahwa pejabat dan bawahan saling menghormati, kepercayaan publik pada institusi pun menguat. Warga, pada gilirannya, terdorong untuk memanfaatkan hak dan kewajibannya secara bertanggung jawab, menghindari tindakan yang merusak keharmonisan sosial.
Di panggung sosial, kehidupan modern hakiki menolak ideologi kekerasan. Konflik diselesaikan melalui dialog, mediasi, dan musyawarah. Dunia pendidikan mengajarkan keterampilan empatik sejak dini: bagaimana mendengarkan dengan saksama, bagaimana menempatkan diri pada perspektif orang lain, dan bagaimana merespons perbedaan pendapat dengan tenang. Hasilnya adalah generasi yang tidak takut berkolaborasi dengan siapapun, yang mampu membangun jaringan bantuan ketika ada kebutuhan mendesak, dan yang berani melakukan langkah konkret untuk memperbaiki keadaan sekitar.
Kita pun melihat contoh nyata bagaimana prinsip-prinsip ini bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pebisnis yang menimbang dampak sosial tiap investasinya, seorang dokter yang memprioritaskan pemulihan pasien dengan pendekatan holistik, seorang guru yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap pelajaran, seorang pejabat yang menjembatani kebutuhan warga dengan solusi praktis. Semua berperan dalam membentuk ekosistem hidup yang harmonis, di mana setiap orang merasa dihargai, didengar, dan dibutuhkan. Harmoni yang tumbuh dari akhlak, kolaborasi, dan empati ini adalah landasan bagi kemajuan yang berkelanjutan.
Namun kita juga menyadari bahwa perombakan besar tidak lahir dari satu malam saja. Ia membutuhkan komitmen panjang dari semua pihak: individu, komunitas, sektor swasta, dan pemerintah. Diperlukan kebijakan yang mendorong kerja sama lintas sektor, program-program yang memancing partisipasi publik, serta budaya evaluasi yang jujur terhadap kemajuan yang dicapai. Yang penting, kita tidak kehilangan arah ketika tantangan datang. Sebab fondasi kita adalah akhlak utama yang telah kita sepakati bersama sebagai ikon kehidupan modern hakiki.
Refleksi akhir tahun ini mengajarkan kita bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari kemewahan atau kekuasaan, melainkan dari kemampuan kita membangun kehidupan yang penuh kedamaian, saling pengertian, saling tolong menolong dan saling berpadu. Ketika kita menutup lembaran lama dengan kemantapan hati untuk hidup dalam keharmonisan, kita membuka halaman baru yang penuh harapan. Harapan bahwa pola hidup hendaknya berubah—berbasis akhlak, kolaborasi, dan empati—akan menyejukkan bumi, memperkaya jiwa, dan mengangkat harkat manusia secara menyeluruh.(*)
Posting Komentar untuk "Refleksi Akhir Tahun: Menuju Manusia Modern Hakiki dengan Akhlak sebagai Icon"