Raja Muda Boleh, Tapi Pemimpin Modern Harus Matang: Zaman Logis Bukan Nilai Tas dan Popularitas tapi Kualitas dan Integritas!

        Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                    Universitas Negeri Makassar)

Bayangkan kerajaan Bugis kuno di Gowa-Tallo, raja muda Daeng Pattoyo naik tahta usia 20-an, tapi dibimbing laki-laki bijak dan adat kuat—kerajaan jaya pesisir Sulawesi. Kini zaman logika modern, viral TikTok usia 30-an pimpin partai atau desa, pengalaman minim tapi followers jutaan. "Keren bro!" komentar netizen, tapi rakyat tua 60-an geleng kepala: "Belum matang, kok pimpin?" Etis kah pemimpin 30-an pimpin orang 40-70 tahun? Tidak!! Pengalaman sangat dikit lagi mentah, kadang arogan cuek sopan santun, kurang ajar debat senior—pemerintahan bisa chaos. Seharusnya pemimpin itu lebih matang dari yang dipimpin: umur, pengalaman, gagasan, bijak dan visi. Zaman kerajaan raja muda boleh, zaman logika pemimpin matang mutlak demi lancarkan roda pemerintahan aman maju pesat. Indonesia butuh pemimpin dewasa, bukan selebgram viral baru umur jagung.​

Zaman kerajaan pemimpin muda wajar. Sultan Hasanuddin usia muda perang VOC, dibantu ulama dan bupati berpengalaman—Gowa jadi kerajaan Islam kuat. La Patau Matanna Tika Raja Bone ke-16, diangkat jadi Raja di umur 24 tahun, tapi sudah matang dibimbing tokoh adat, pimpin kerajaan Bone jaya. Raja-raja Mataram usia belasan naik tahta, tapi dewan wali songo dan sunan bijak bimbing strategi. Adat Bugis-Makassar siri na pacce lindungi: raja muda hormati lato (kakek), dengar saran (nasihat). Tak ada arogansi, karena adat ajar sopan rendah hati. Hasil? Kerajaan stabil, rakyat taat, ekonomi dagang pinisi jaya. Raja muda simbol harapan, tapi matang jiwa karna pengalaman adat turun temurun. Kini? Pemimpin 30-an viral debat kasari senior, cuek etika "gue paling tahu", kadang “kurang ajar”—rakyat gelisah. Protes dimana-mana. Hidup berbangsa gaduh.​

Zaman logika modern beda total—pemimpin harus lebih matang dari yang dipimpin: usia 45 ke atas, pengalaman 15 tahun lapangan (sebagai abdi negara/PNS/ASN, PSwa, Politisi, Birokrasi atau lainnya), gagasan visioner lagi cerdas. Bukan viral TikTok 30-an minim pengalaman, arogan cuek sopan santun, tak tahu hargai senior, hanya andalkan  modal Tas. Pemimpin dewasa dengar aspirasi rakyat tua, policy win-win jangka panjang, pemerintahan lancar aman maju pesat. Umur matang umur bijak gagasan—Indonesia jaya!

Akibat pemimpin muda mentah dahsyat. Desa contoh: kades 28 viral TikTok, policy hidroponik gagal banjir—petani rugi. Partai muda arogan pecah kongkalikong senior. DPR RI 2024, fraksi muda debat sengit veteran—RUU macet. Data BPS 2025: kepala desa <40 tahun turnover 35% (ganti tiap pilkades), >45 tahun 12% stabil. Pengalaman minim bikin policy populis: bagi seribu gratis tapi anggaran bocor korupsi. Arogan cuek etika: senior hormat dilupain, rakyat tua "anak kecil kok ngatur?" Pemerintahan chaos: demo, mogok kerja, ekonomi mandek. Bandingkan bupati matang 50-an: dengar aspirasi, policy jangka panjang infrastruktur jalan tol desa—maju stabil. ​

Pemimpin matang bijak: dengar masukan, sabar konflik, gagasan visioner puluhan tahun. Tak arogan, hormati rakyat tua—pemerintahan aman maju pesat. Banding pemimpin viral 30-an: policy instan like medsos, ganti tiap tren, negara mundur, siap dicaplok asing. ​

Kenapa umur pengalaman krusial? Psikologi: usia 45 ke atas prefrontal cortex matang, keputusan bijak minim impuls. Pengalaman 15 tahun lapangan paham akar masalah: desa bukan konten viral, rakyat butuh sawah irigasi bukan WiFi gratis atau AI. Gagasan matang: short-term populis  dan long-term berkelanjutan. Sopan santun: hormati orang tua adat Bugis jaga siri (mappakatau), pemerintahan harmoni. Data Harvard 2025: pemimpin >45 tahun retensi karyawan 82%, <35 tahun 55% (arogansi turnover). Pemerintahan matang: birokrasi efisien, investasi masuk, ekonomi bisa tumbuh 17%. Negara semakin maju.

Cara pilih pemimpin matang praktis. Pertama, pilcaleg/pildes: prioritas pengalaman 10 tahun kea atas, bukan followers. Kedua, partai: mentoring senior 5 tahun baru pimpin. Ketiga, rakyat: tolak viral arogan, dukung matang bijak. Keempat, pemerintah: regulasi usia minimal bupati 45 wakil 40  tahun pengalaman 10 tahun. Kelima, pendidikan: buat contoh bijak, sekolah/PT ajarkan kepemimpin matang hormati senior, jangan dibalik, usia 30-an pimpin professor umur 60-an. Rusak tatanan kehormatan senior. Kaderisasi gagal.

Manfaat pemimpin matang luar biasa. Pemerintahan lancar: policy win-win rakyat senior-junior. Aman: konflik minim, demo nol. Maju pesat: FDI bisa naik 30%, GDP provinsi  bisa naik 15%. Sosial: harmoni umur, adat lestari. Tantangan: gen Z "muda energik," jawab hybrid: pemimpin matang mentori junior. Pemerintah pusat: regulasi MK usia minimal bupati 45 dan wakil bupati 40 tahun, Gubernur 50 dan wakil Gubernur 45 tahun, Presiden 55 dan wakil presiden 50 tahun. 

Visi Indonesia matang 2045: presiden 55 pengalaman nasional, gubernur 50 bijak regional, kades 48 kenal akar rumput. Tak ada arogansi viral, penuh sopan hormat. Pemerintahan seperti kerajaan bijak modern: raja matang bimbing rakyat jaya. Mulai pilkades 2026: pilih  calon yang matang umur dan pengalaman, tolak seleb 30-an mentah! Pilih 40 tahun ke atas! Jangan lagi lihat Nilai Tas, tapi lihat kualitas dan integritas, lagi cerdas dan matang spiritualitas.

Penutup: Zaman kerajaan raja muda boleh karna adat kuat, zaman logika pemimpin matang umur pengalaman gagasan harus matang—pimpin orang tua etis lancar maju. Pemimpin lebih matang dari yang dipimpin: bijak dengar, sabar konflik, visioner jaya. Indonesia aman dan maju pesat. Pilih pimpinan yang matang berkualitas, berintegritas, lagi cerdas dan kaya spiritualitas, bukan viral dan bukan nilai Tas!. ​Bukan hanya tulisan di kertas, Indonesia pun bisa capai Era Emas.(*) 

Posting Komentar untuk "Raja Muda Boleh, Tapi Pemimpin Modern Harus Matang: Zaman Logis Bukan Nilai Tas dan Popularitas tapi Kualitas dan Integritas!"