Di Balik Kaya-Pangkat-Terkenal: Hanya ingin Pujian dari Sesama yang Menggoda? Bangun Pikiran Benar untuk Hidup Mulia!

     Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                  Universitas Negeri Makassar)

Bayangkan seorang pemuda di tengah hiruk-pikuk kota besar: ia bekerja keras, bermimpi menjadi kaya raya, menduduki jabatan tinggi, atau bahkan menjadi selebriti yang dikenal jutaan orang. Apa yang mendorongnya? Bukan sekadar uang atau kekuasaan, katanya pada diri sendiri. Tapi, jika kita gali lebih dalam, seringkali akarnya adalah hasrat sederhana: ingin dipuji, dihormati, dan dikagumi oleh sesama manusia. "Lihat, dia sukses besar!" gumam orang-orang.

 Pujian itu seperti obat penghilang lelah, tapi benarkah itu tujuan sejati hidup?
Pola pikir seperti ini merajalela di masyarakat kita hari ini. Media sosial mempercepatnya. Postingan mewah, jabatan baru, atau pencapaian viral langsung menuai like, komentar, dan pujian. 

Kita terjebak dalam lingkaran setan: keinginan kaya bukan untuk berbagi, tapi agar orang bilang "wah, hebat!". Ingin pangkat bukan untuk melayani, tapi agar dipanggil "Bapak/Ibu Direktur, Bapak/Ibu Ketua, Bapak/Ibu Kabag". Ingin terkenal bukan untuk menebar manfaat, tapi agar menjadi pusat perhatian. Ini pola pikir salah yang merusak jiwa, karena menjadikan pujian manusia sebagai tuhan kecil dalam hati kita. Padahal, Al-Qur'an sudah memperingatkan dengan tegas soal ini.

Ingatlah firman Allah SWT dalam Surah Al-Kahfi ayat 28: "Dan berilah peringatan kepada orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka disebabkan mereka tidak memperoleh pemeliharaan di sisi mereka, dan tidak mempunyai teman, dan sesungguhnya Tuhan mereka tidak mengetahui keadaan mereka." Lebih tepatnya, dalam konteks yang lebih luas, ayat-ayat seperti ini mengajak kita sadar bahwa ketergantungan pada pujian manusia sama sekali tak berguna di hadapan Allah. Manusia datang dan pergi, pujian mereka fana, tapi ridha Allah abadi.

Lebih gamblang lagi, Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Riyadh (Al-Insan) ayat 9: "Mereka (orang-orang yang bertakwa) memberi makan makanan karena takut kepada Allah, kepada anak yatim, dan orang miskin, (dengan berkata saat memberi makan), 'Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk (mencari) ridha Allah semata, kami tidak mengharapkan darimu balasan apa pun dan tidak (pula) ucapan terima kasih.'" Ayat ini seperti tamparan lembut bagi kita yang haus pujian. Orang-orang saleh memberi makan yang lapar bukan karena ingin dipuji "wah, dermawan!", tapi semata-mata untuk Allah. Tak ada harap balasan duniawi, apalagi ucapan terima kasih yang manis. Ini pola pikir benar: segala ambisi harus berlabuh pada ridha Ilahi, bukan sorotan manusia.

Bayangkan bagaimana Nabi Ibrahim AS menghadapi godaan serupa. Saat ia ingin menyembelih anaknya Ismail karena perintah Allah, ia tak peduli pujian atau cercaan manusia. Ia hanya taat pada Allah. Atau, Nabi Muhammad SAW, yang meski menjadi pemimpin umat, tetap rendah hati. Beliau bersabda, "Barangsiapa yang mencari ridha Allah meskipun menimbulkan murka manusia, maka Allah akan meridhainya dan menenangkan hati manusia terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari ridha manusia dengan mengorbankan ridha Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan menimbulkan kemurkaan manusia terhadapnya." (HR. Tirmidzi). Hadits ini mengonfirmasi: keinginan pujian dari sesama justru mendatangkan murka Allah.

Di era digital ini, pola pikir salah ini semakin parah. Seorang pengusaha muda membangun bisnis bukan untuk menolong karyawan atau masyarakat, tapi agar Instagram-nya penuh endorsement dan followers. Politisi meraih jabatan bukan untuk rakyat, tapi agar pidatonya viral dan dipuji media.

 Artis mengejar ketenaran bukan untuk inspirasi, tapi agar award demi award menghiasi rak. Akibatnya? Jiwa kosong. Kekayaan tak bikin bahagia, pangkat justeru bikin stres, ketenaran bikin paranoid. Mengapa? Karena fondasi dan tujuannya salah: bukan karena dan untuk Allah, tapi untuk ego dan pujian fana.
Padahal, Islam mengajarkan sebaliknya. Ingin kaya? Ya, boleh! Tapi demi bisa menolong. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad). Kaya raya seperti Utsman bin Affan RA, yang menghabiskan hartanya untuk membeli sumur untuk umat, membangun masjid, dan membebaskan budak. Tak ada pamer, tak ada haus like. Hanya ikhlas karena Allah.

Ingin pangkat atau jabatan? Tidak dilarang! Tapi untuk bantu orang. Seperti Khalifah Umar bin Khattab RA, yang meski memimpin kekhalifahan luas, tetap jalan kaki keliling kota untuk pastikan rakyatnya sejahtera. Jabatan baginya adalah amanah, bukan alat pamer. Al-Qur'an menegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 58: "Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruhmu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi nasihat kepadamu.

 Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Jabatan adalah amanah untuk keadilan, bukan panggung pujian atau pilih kasih apalagi balas dendam.
Ingin terkenal? Mengapa tidak, asal untuk dakwah dan manfaat. Seperti ulama kontemporer yang viral di TikTok karena ceramahnya menyentuh hati, dan  tujuannya menebar ilmu, bukan followers. 

Semua ini harus kembali ke niat: lillahi ta'ala. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 265: "Dan perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya memperlihatkan (kebajikan) kepada Allah dan mendapat balasan-Nya adalah seperti sepelet tanah yang berada di atas bukit pegunungan; apabila turun hujan yang lebat, tanah itu mengeluarkan tanam-tanamnya, lalu layu, maka menjadi serpihan-serpihan yang ditiup angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Ayat ini metafor indah: amal yang pamer seperti tanah gembur yang lenyap ditiup angin. Hanya amal ikhlas yang bertahan.

Lalu, bagaimana menyadari dan mengubah pola pikir ini? Mulai dari muhasabah diri. Setiap pagi, tanyakan: "Apa niatku hari ini? Untuk pujian manusia atau ridha Allah?" Latih hati dengan dzikir dan shalat malam. Hindari jebakan medsos: postinglah untuk inspirasi, bukan validasi apalagi pujian. Dan, ingat kisah Qarun dalam Surah Al-Qashash ayat 76-82. Qarun kaya raya, berjalan dengan kunci harta butuh rombongan unta. Tapi ia sombong, pamer kekayaan, hingga ditelan bumi. Kekayaannya tak selamatkan dia, karena niatnya salah: untuk dipuji, bukan untuk Allah.

Di Indonesia negeri kita tercinta, yang kaya akan nilai gotong royong dan religiusitas, sudah saatnyalah kita bangun pola pikir benar ini. Pemimpin daerah yang bangun infrastruktur bukan untuk plakat nama besarnya, tapi untuk rakyat semua. Pengusaha yang zakatkan harta bukan untuk pajak sosial media, tapi ikhlas. Guru yang mendidik bukan untuk gelar "guru terbaik", tapi bentuk generasi rahmatan lil alamin. Ini yang membuat Allah meridhai, dan ironisnya, pujian manusia pun mengalir deras sebagai bonus.

Jika kita terus terjebak ingin pujian sesama, kita hanya membangun istana pasir. Murka Allah dekat, seperti diperingatkan Surah Al-Ma'un ayat 4-7: "Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberi nafkah." Riya—pamer amal—adalah racun jiwa. Sadarilah sekarang: ingin kaya untuk tolong, ingin pangkat untuk bantu, ingin terkenal untuk dakwah. Semua hanya untuk Allah semata. Hati pun tenang, hidup pun barokah.

Mari, renungkan. Besok, saat ambisi menyapa, pilih jalan benar! Bukan untuk tepuk tangan manusia, tapi senyuman Rabb semesta alam.(*) 

Posting Komentar untuk "Di Balik Kaya-Pangkat-Terkenal: Hanya ingin Pujian dari Sesama yang Menggoda? Bangun Pikiran Benar untuk Hidup Mulia!"