Bangun Percaya Diri Bangsa Sendiri: Lepas Belenggu Mental "Serba Luar Negeri"!

  

    Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP                    Universitas Negeri Makassar)

Bayangkan sebuah negeri yang setiap hari menatap kagum ke Barat atau Timur, menganggap segala yang impor sebagai standar emas. "Made in Japan" atau "From USA" jadi ukuran mutlak, sementara karya anak bangsa sendiri diremehkan. Ini bukan sekadar kebiasaan belanja, tapi penyakit jiwa: kurangnya rasa percaya diri bangsa. Sudah saatnya Indonesia bangun kualitas sendiri, tanpa terikat standar asing yang justru membelenggu potensi kita. Yakinlah, bangsa ini berkualitas tinggi—jika kita hargai diri sendiri dulu. Bangsa lain hanya tambahan, bukan rujukan utama. Saatnya lepas mental bekas jajahan yang selalu merasa di bawah!

Mental Inferior: Warisan Kolonial yang Masih Mengikat

Sejak era penjajahan, bangsa kita dibiasakan merasa rendah. Belanda, Jepang, lalu pengaruh Barat pasca-kemerdekaan, menanamkan narasi bahwa "luar negeri lebih baik". Hasilnya? Kita jadi bangsa yang selalu bandingkan diri dengan bangsa lain. Produk lokal dianggap "kampungan" jika tak punya sertifikat ISO dari Eropa. Pendidikan kita ikut kurikulum Singapura atau Finlandia, seolah sistem kita tak layak. Bahkan makanan: sushi atau burger lebih prestisius daripada rendang atau sate yang lezat bergizi..

Ini kebodohan kolektif. Kita anggap barang dalam negeri tak berkualitas, tapi impor langsung dianggap premium—padahal sering kali sama saja. Ironinya, bangsa lain justru kagum pada keunikan kita: batik diakui UNESCO, kopi Gayo juara dunia, startup Gojek jadi unicorn global. Tapi kita sendiri? Masih sibuk impor segalanya. Mental ini membelenggu: inovator lokal kesulitan dana karena investor lebih percaya modal ventura Silicon Valley. Akibatnya, Indonesia tertinggal, padahal potensi alam dan SDM kita melimpah.

Revolusi dimulai dari kesadaran: hargai bangsa sendiri dulu. Saat kita yakin dengan kualitas internal, dunia akan ikut menghargai. Seperti Jepang pasca-Perang Dunia II: mereka bangun dari nol dengan keyakinan "kita bisa", bukan tiru Barat mentah-mentah. Hasilnya? Jepang jadi raksasa ekonomi.

Bangun Kualitas Sendiri: Tak Perlu Standar Asing sebagai Tuan Rumah

Mengapa kita biarkan standar asing jadi rujukan utama? Sertifikasi luar negeri sering tak relevan dengan konteks kita—mereka ukur berdasarkan iklim tropis Eropa, bukan banjir Jakarta atau gempa Ring of Fire. Kita harus ciptakan standar nasional yang unggul: SNI yang adaptif, kurikulum pendidikan berbasis gotong royong, bukan hafalan tes PISA.

Lihat contoh nyata. Industri fashion: desainer lokal seperti Didit Hediprasetyo bersinar di Paris Fashion Week, tapi di rumah kita lebih pilih Zara. Kuliner: restoran Michelin-star di luar negeri sajikan masakan Indonesia, sementara kita sibuk antre Starbucks. Teknologi: Tokopedia dan Bukalapak ciptakan e-commerce ramah lokal, tapi kita masih bilang "belajar dari Amazon". Ini salah besar. Bangsa berkembang dengan mengandalkan kekuatan sendiri—China lakukan itu dengan "Made in China 2025", tak lagi jadi pabrik murah Barat.

Bayangkan jika kita ubah pola pikir: prioritaskan UMKM lokal, beli produk "Buatan Indonesia" dulu. Pemerintah bisa dukung dengan insentif pajak untuk sertifikasi nasional, kampanye "Love Local" yang masif. Hasilnya? Ekonomi bisa mandiri, lapangan kerja bisa melonjak, rasa bangga nasional semakin tumbuh.

Hargai Karya Anak Bangsa: Kunci Percaya Diri Sejati

Masalah terbesar: kita tak hargai karya sendiri. Peneliti suatu perguruan tinggi ciptakan vaksin merah putih, tapi vaksin impor lebih dipercaya. Film "Laskar Pelangi" hits global, tapi box office kita dikuasai Hollywood. Musisi seperti Isyana Sarasvati menang kompetisi internasional, tapi playlist kita penuh K-pop.

Ini siklus setan: kurang percaya diri → remehkan lokal → lokal tak berkembang → impor makin dominan. Pecah siklusnya dengan aksi nyata. Orang tua: dorong anak pakai sepatu lokal seperti Specs, bukan Nike. Pengusaha: investasi startup Bandung sebelum Silicon Valley. Media: promosikan berita sukses dokter Indonesia ciptakan obat herbal, bukan hanya kasus impor sukses.

Ingat pepatah: "Bangsa lain menghargai kita jika kita hargai diri sendiri." Singapura sukses karena Lee Kuan Yew tanamkan "kita bisa saingi siapa saja". India bangkit dengan Bollywood dan IT-nya sendiri. Indonesia punya itu semua: budaya kaya, sumber daya alam, talenta muda. Jangan lagi serba luar negeri seolah kita tak punya apa-apa. Kita selama ini merendahkan diri sendiri. Akibatnya? Bangsa lain pun merendahkan kita!

Jauhkan "Anak Ingusan" Mental: Bangun dari Dalam

Salah besar membangun bangsa dengan selalu anggap diri di bawah. Bekas jajahan tak boleh selamanya jadi penonton. Generasi muda kita pintar—lihat atlet bulutangkis juara Olimpiade, engineer SpaceX asal Indonesia. Tapi jika mental "luar lebih baik" terus, mereka pulang pun cari kerja di perusahaan multinasional, bukan bangun perusahaan sendiri.

Pemerintah punya peran besar: revisi regulasi impor, dukung riset nasional, ajarkan sejarah keberhasilan lokal di sekolah. Swasta: kolaborasi antar-UMKM, bukan saingan. Masyarakat: boikot narasi inferior, rayakan "Pride in Indonesia".

Bayangkan 10 tahun lagi: produk Indonesia ekspor ke Eropa, universitas kita top ASEAN, film lokal sapu Oscar. Ini bukan mimpi—ini hasil keyakinan diri.

Langkah Aksi: Wujudkan Bangsa Percaya Diri

Mulai hari ini:Individu: Pilih produk lokal minimal 70% belanja bulanan; Bisnis: Sertifikasi SNI dulu, baru ISO; Pemerintah: Kampanye nasional "Bangga Buatan Indonesia 2.0"; Pendidikan: Kurikulum "Karya Bangsa" wajib. 

Indonesia bisa jadi harimau Asia jika lepas belenggu standar asing. Bangsa lain tambahan saja—utama adalah kita sendiri. Hargai kualitas bangsa ini, dan dunia akan ikut bertepuk tangan! (*) 

Posting Komentar untuk "Bangun Percaya Diri Bangsa Sendiri: Lepas Belenggu Mental "Serba Luar Negeri"!"